Tentang Profesi Konsultan Lingkungan

Profesi Konsultan Lingkungan sebenarnya sangaaat luas lingkupnya. Tapi intinya, sejauh yang saya pahami, pekerjaan ini berfungsi menjembatani pelaku usaha dengan stakeholders serta peraturan di bidang lingkungan yang terkait dengan usaha yang dijalankannya. Sebagai contoh sederhana, PP No. 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan, mewajibkan setiap pemilik atau perencana usaha/bisnis untuk memiliki Izin Lingkungan sebelum dapat memiliki Izin Mendirikan Bangungan dan Izin Operasional. Untuk memiliki Izin Lingkungan tersebut, pemilik atau perencana usaha/bisnis harus menyusun dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) atau dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL-UPL). Nah peran konsultan lingkungan adalah membantu pemilik atau perencana usaha/bisnis untuk menyusun dokumen tersebut.

Contoh lainnya misalnya terkait PP No. 50 Tahun 2012 mengenai Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3).  Peraturan ini menjelaskan kewajiban pemilik atau pelaku usaha/bisnis dengan jumlah pegawai lebih dari 100 orang untuk menerapkan Sistem Manajemen K3 di dalam menjalankan usahanya. Nah, peran konsultan lingkungan di sini antara lain menginformasikan kepada klien yang merupakan pemilik atau pelaku usaha/ bisnis mengenai ketentuan-ketentuan yang dijelaskan dalam peraturan tersebut dan bagaimana pemilik atau pelaku/usaha dapat memenuhi ketentuan tersebut. Bentuknya antara lain berupa dokumen Due Diligence, ataupun Environment, Health and Safety Audit (EHS Audit / Audit K3L).

Meskipun lingkup pekerjaan Konsultan Lingkungan itu luas, namun yang saya kerjakan selama ini masih fokus di bidang AMDAL dan K3L kok. Nah, yang paling menarik yang mau saya ceritakan kali ini adalah pekerjaan konsultan lingkungan di kantor baru saya sejak Januari 2016 ini. Setelah hampir 3 tahun bekerja di perusahaan konsultan lingkungan lokal dan banyak menangani dokumen UKL-UPL dan AMDAL, tahun ini saya memulai pekerjaan baru di perusahaan konsultan lingkungan yang berbasis di Singapore. Tentunya, pengalaman dan lingkup pekerjaan saya bertambah. Bertambah luas sekaligus bertambah menarik!

Jika sebelumnya saya banyak menjembatani klien pemilik atau pelaku usaha/bisnis dengan peraturan di bidang lingkungan dari stakeholders lokal, mulai tahun ini, saya belajar menjembatani klien pemilik atau pelaku usaha/ bisnis untuk memenuhi ketentuan stakeholders atau peraturan di tingkat internasional. Salah satu contohnya adalah ketentuan dari International Finance Corporation (IFC) dan World Bank (WB) yang berlaku untuk semua usaha/bisnis yang mengajukan dan mendapatkan dukungan finansial dari organisasi dunia tersebut. IFC dan WB sebagai donor finansial mensyaratkan usaha/bisnis untuk memenuhi berbagai ketentuan yang diantaranya sangat bijak lingkungan.

IFC Performance Standards on Environmental and Social Sustainability

Mulai agak English English dikit nih yak. Bisnis yang baik dan sehat adalah bisnis yang berjalan dengan mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosial secara berkelanjutan. IFC sangat menyadari hal itu, sehingga ia mensyaratkan pelaku atau pemilik usaha/ bisnis (yang mengajukan pinjaman dana untuk bisnisnya) untuk merencanakan serta menjalankan bisnis sesuai dengan ketentuan-ketentuannya yang disusun sedemikian rupa yang mencerminkan bahwa bisnis tersebut berjalan dengan sehat dengan mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosial yang berkelanjutan.